Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mengatakan erupsi Gunung Merapi yang terjadi Jumat (11/5/2018) mulai pukul 07.43 WIB merupakan erupsi bersifat freatik.
Sebab tampungan air hujan pada musim hujan lalu tumpah dan mengalami kontak langsung dengan magma yang tertutup oleh material abu endapan lama. Lebih jauh BPBD DIY dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja memprediksi tidak akan terjadi erupsi susulan.
Baca Juga
Profesor ITS Ubah Plastik Jadi BBM RON 98
Tanda-tanda Akan Terjadi Hujan Es
Hotel Murah di Jogja Tarif Mulai Rp 70 Ribuan
Kepala Pelaksana BPBD DIY Birawa Yuswantana mengatakan secara sederhana, material erupsi Merapi pada 2010 berupa abu. Air hujan yang ada di dalam kawah kemudian jatuh ke magma yang tertumpuk material lama tersebut sehingga menghasilkan hujan abu.
Birawa mengatakan abu terbawa angin ke arah selatan dan barat. “Kami dapat laporan abu sampai ke Sedayu dan Godean. Sekarang radius sudah diturunkan menjadi dua kilometer, penduduk Kaliadem [Sleman] bahkan sudah kembali ke rumah masing-masing,” kata Birawa saat press conference di BPBD DIY, Jumat.
Birawa mengatakan erupsi freatik yang terjadi Jumat berbeda dengan erupsi vulkanik 2010. Erupsi vulkanik lebih berbahaya. Ketika gunung menyemburkan material padat dari magma maka hal tersebut baru bisa dikatakan erupsi vulkanik.
Selengkapnya baca > HarianJogja | foto @yogyakartacity (ig)
Serba-serbi
Mitos Paling Terkenal di Jogja
Misteri Suara Drumband Malam Hari Jogja
Tempat Misterius di Jogja dan Mitosnya