UAJY
covid
Berita Jogja

Warga Imogiri Dengar Dentuman dari Dalam Bumi

  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares

Seiring dengan meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Merapi beberapa waktu terakhir, banyak warga di Imogiri dan Seloharjo, Pundong, Kabupaten Bantul, DIY, diresahkan oleh bunyi dentuman yang mereka dengar berasal dari dalam bumi. Apalagi warga pernah mendengar 12 kali dentuman dalam sehari.

Setidaknya, begitulah hal yang dikatakan oleh Anang, warga Selopamioro, Imogiri, Minggu (11/5). Kepada Tribun ia mengatakan sering merasakan getaran yang cukup keras, sekaligus mendengar suara dentuman dan juga gemuruh dari dalam bumi.

Marko

Jenak Homestay

Setiap mendengarkan dentuman yang keras, warga biasanya berbondong-bondong mendatangi Bukit Selopamioro untuk melihat apa yang terjadi di sana. “Penasaran. Selain itu kami juga khawatir kalau suatu saat ambles,” kata Anang.

Diwawancara secara terpisah, Dwi Daryanto, kepala harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, membenarkan adanya kabar ini. Ia juga mengaku telah menerima laporan dari warga.

Mengenai sumber bunyi dentuman yang didengar oleh banyak tersebut, Dwi menjelaskan, ada saluran dari Gunung Merapi ke Imogiri dan Seloharjo. Saluran itu adalah cesar Opak, yang merupakan jalur gempa tektonik. Menurutnya, bila aktivitas Merapi meningkat, maka di daerah cesar Opak juga terjadi dentuman ataupun getaran, karena letupan gas tidak hanya terjadi dekat Merapi.

“Gempa tektonik dan vulkanik itu kaitannya erat, makanya bisa terjadi dentuman itu,” kata Dwi menerangkan.

Adapun berdasar hasil koordinasi yang telah dilakukan BPBD Bantul dengan pihak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY diketahui bahwa dentuman itu ada kaitannya dengan aktivitas Merapi. Dwi menegaskan, masyarakat tak perlu panik karena kejadian tersebut tidak akan menyebakan tanah ambles.

“Suara dentuman itu sempat membuat panik warga. Di sana memang ada cesar Opak, sehingga kalau Merapi bergejolak daerah di sekitarnya akan merasakan hal seperti ini. Warga tak perlu khawatir,” kata Dwi menambahkan.

Namun, Kepala BPPTKG Yogyakarta, Subandriyo, saat dihubungi secara terpisah mengatakan belum bisa memastikan apakah yang didengar dan dirasakan warga itu terkait atau tidak dengan aktivitas Merapi yang saat ini berstatus Waspada. pihaknya akan memastikan lebih lanjut hal tersebut dengan mengecek stasiun seismik di Imogiri.

“Saya belum bisa memastikan apakah tektonik lokal atau disebabkan Merapi. Besok (Senin hari ini, Red) akan kami cek stasiun seismik yang ada di Imogiri,” kata Subandriyo kepada Tribun Jogja, Minggu (11/5).

Sudah lama
Menurut Subandriyo, sudah sejak lama, yaitu pascagempa 2006, di daerah tersebut sering terdengar suara dentuman dari bawah tanah. Namun hal tersebut juga terjadi ketika Merapi tidak aktif.

Ia menjelaskan, daerah tersebut dikenal sebagai daerah karst, yang di dalam tanahnya terdapat rongga cukup lebar. Diperkirakan dentuman tersebut bisa disebabkan karena tidak stabilnya batuan di lapisan bawah tanah.

Hal serupa juga disampaikan oleh Kasi Data dan Informasi Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, Tony Agus Wijaya, yang diwawancara secara terpisah. ia mengatakan, di daerah tersebut sering ada laporan adanya dentuman dan getaran. “Hal tersebut sering terjadi sejak terjadinya gempa 2006,” kata Tony.

Menurutnya, beberapa kali terjadi gempa tektonik di daerah tersebut. Ada yang terekam dan ada pula yang tidak terekam oleh alat pencatat milik BMKG di Gamping, Sleman, dan Playen, Gunungkidul, serta Wonogiri, Jateng.

Adapun gempa yang tidak terekam oleh alat, menurut Tony, karena gempa tektonik yang terjadi bersifat sangat lokal dan hanya dirasakan oleh beberapa daerah. “Untuk tiga hari terakhir tidak terekam adanya gempa di daerah tersebut. Mungkin karena getaran yang ditimbulkan kecil dan hanya dirasakan oleh beberapa daerah saja, dan bersifat sangat lokal,” kata Tony.

Menurutnya, kajian tentang sering adanya dentuman dan getaran yang sering terjadi di daerah tersebut, akan terus dilakukan. Beberapa kemungkinan bisa menjadi penyebab, seperti adanya aktivitas tektonik di bawah tanah.

Beberapa dugaan juga muncul, seperti adanya dugaan bahwa dentuman tersebut dikarenakan adanya rambatan dari gempa yang terjadi di tempat lain. Meskipun begitu, Tony meminta warga tidak perlu panik. “Masyarakat tidak perlu panik dan bisa tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Apabila ada getaran yang kuat diharapkan untuk melindungi diri dari hal yang bisa membahayakan,” katanya.

via tribunnews

available

  •  
    2
    Shares
  • 2
  •  
  •  
CLOSE
CLOSE