Satu 1 Suro atau malam 1 Suro dinilai memiliki makna mistis lebih dalam dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Di Yogyakarta, ada tradisi tapa bisu mubeng beteng Kraton Yogyakarta pada malam 1 Suro. Tapa bisu adalah tradisi yang dilakukan oleh Abdi Dalem Kraton Yogyakarta yang digelar setiap malam 1 Suro sesuai penanggalan kalender Jawa. Tapa bisu dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta di malam hari tanpa berbicara. Tradisi Mubeng Beteng dengan Tapa Bisu diprakarsai oleh Sultan Agung, Raja Mataram Islam pertama.
Baca Juga
Profesor ITS Ubah Plastik Jadi BBM RON 98
Tanda-tanda Akan Terjadi Hujan Es
Hotel Murah di Jogja Tarif Mulai Rp 70 Ribuan
Dulunya, ritual ini dilakukan oleh para prajurit Keraton. Tidak sekedar tradisi, tapi kegiatan tersebut juga dalam rangka mengamankan lingkungan Kraton. Lantaran saat itu belum ada benteng yang mengitarinya
“Mereka berjaga sambil berdoa mohon kedamaian dan keselamatan untuk pemimpin,” kata Wijoyo.
Sebagai tradisi, Mubeng Beteng tidak mengalami perubahan sedikitpun sejak pertama kali dilakukan. Semuanya masih sama, di mana ritual tersebut memutar mulai dari sisi kiri atau barat Kraton. Arah ini sesuai falsafah Jawa. Menurut Wijoyo, tujuan Mubeng Beteng adalah ngiwake atau membuang hal-hal buruk.
Memperingati Tahun Baru Islam/Tahun Baru Jawa 1 Muharram 1446 H/1 Sura Je 1958, paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta didukung Dinas Kebudayaan DIY akan melaksanakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng pada Minggu (07/07) pukul 23.00 WIB.
Sebelumnya kegiatan tersebut akan diawali dengan pembacaan Macapat bakda Isya di Pelataran Kamandungan Lor (Keben) dan dilanjutkan dengan persiapan Mubeng Beteng pada pukul 23.00 WIB.
Sedulur dipersilakan berpartisipasi dengan mengenakan busana rapi, tidak mengenakan celana pendek, dan berlaku tertib (tidak berbicara) selama prosesi Mubeng Beteng berlangsung.
Selengkapnya baca TribunJogja | foto @kratonjogja (ig)
View this post on Instagram
Serba-serbi
Mitos Paling Terkenal di Jogja
Misteri Suara Drumband Malam Hari Jogja
Tempat Misterius di Jogja dan Mitosnya