UAJY
covid
Serba-serbi Jogja

Pusaka Kraton ini Pernah Diarak saat Jogja Dilanda Wabah yang Banyak Memakan Korban

  • 3.9K
  •  
  •  
  •  
  •  
    3.9K
    Shares

Kangjeng Kyai Tunggul Wulung, nama pusaka keraton Yogyakarta ini tidak asing bagi masyarakat Yogyakarta khususnya pemerhati sejarah dan budaya Kraton Yogyakarta. Pusaka dalam wujud bendera ini juga dijadikan simbol (panji) Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan dikeramatkan sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Kangjeng Kyai Tunggul Wulung diberi nama demikian karena benda pusaka tersebut berwarna dasar biru tua kehitam-hitaman, dalam bahasa Jawa warna tersebut disebut wulung. Di tengah bendera terdapat dekorasi berwarna emas, dan di tengah dekorasi terdapat kaligrafi Surat Al Kautsar, Asma’ul Husna, dan Syahadat.

Marko

Jenak Homestay

Mengutip dari buku Kerajaan Nusantara; Bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung, pada waktu tertentu, bendera ini pernah diarak keliling kota dan di beberapa perempatan jalan diserukan lafadz adzan. Prosesi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk tolak bala dan memohon kesembuhan bagi seluruh rakyat di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Pada zaman penjajahan Jepang, Kanjeng Kyai Tunggul Wulung pernah diarak keliling kota karena saat itu Yogyakarta pernah terkena wabah pes yang banyak memakan korban meninggal,” ujar mbah Darto kepada KRJOGJA.com belum lama ini.

Saat diarak, pusaka ini yang wajib membawa adalah abdi dalem dengan pangkat bupati. Konon pembawa pusaka ini harus ikhlas, karena akan meninggal dunia setelah mengarak pusaka. Pusaka ini tidak boleh dilihat untuk umum meskipun saat diarak sekalipun. Hanya keluarga keraton dan abdi dalem saja diperkenankan melihatnya.

Selengkapnya baca KRJogja | foto Kerajaan Nusantara

Jogja.TV

Jogja Travel

  •  
    3.9K
    Shares
  • 3.9K
  •  
  •  
CLOSE
CLOSE